Buku-buku Azzura Dayana

Loading...

Selasa, 14 Mei 2013

Segera Terbit: RANU


Ranu. Manajer muda. Fotografer. High-cost traveler. 
Hidup dalam kenangan masa lalu yang pahit disebabkan beberapa kehilangan. 
Atas ide sohibnya yang kocak, gokil, dan backpacker abis bernama Dios, 
ia sepakat mengangkat kehidupan pedalaman di Pegunungan Baduy 
ke dalam sebuah film semidokumenter budaya.


Ide itu menyeretnya pada perjumpaan dengan sosok Ayuni. 
Fotografer kebanggaan Dios untuk proyek Baduy. 
Pendaki gunung yang tangguh namun pemurung dan cenderung ketus. 
Tapi Ranu justru berhasil menemukan sisi lain pada dirinya. 
Sebuah kelembutan bak bunga edelweiss dan kedamaian bak danau Ranu Kumbolo.

Clue apakah yang sebenarnya menghubungkan antara Ranu dan Ayuni? 
Bagaimana pula dengan Irene, sosok princess yang ada di hati Ranu maupun Ayuni? 
Benarkah jalan kehidupan mereka akan berubah?

--------------------

Segera terbit, RANU (novel duet Azzura Dayana & Ifa Avianty) published by Quanta - Elex Media - Kompas - Gramedia, yang bisa Anda dapatkan di seluruh toko buku Gramedia.

PS: asik deh foto jepretan pribadi bisa jadi kaver novel sendiri. Alhamdulillah yaa:)





Selasa, 23 April 2013

Bengkulu Memories

Yang selalu akan terkenang tentang Bengkulu:

"Aku titipkan negeri ini padamu."

"Aku ingin mencintai-Mu, setulusnya, sebenar-benar aku cinta. Dalam doa, dalam ucapan, dalam setiap langkahku."

"Kaki Harap Dilepas."

"Gawat 2013"

Cuaca yang teramat sangat panas di siang 22 April 2013.


~~~~~~


"Aku titipkan negeri ini padamu," adalah kalimat yang terdapat pada poster Bung Karno dan Ibu Fatmawati, di beranda rumah kediaman Bung Karno pada masa pengasingan beliau oleh Belanda di Bengkulu. Kalimat ini terdengar romantis, dan tentu saja bermakna sangat dalam. Saya jadi terinspirasi untuk menjadikannya sebuah judul tulisan, atau judul bab dari entah novel mana nanti :-)

"Aku ingin mencintai-Mu, setulusnya, sebenar-benar aku cinta. Dalam doa, dalam ucapan, dalam setiap langkahku. Aku ingin mendekati-Mu, selamanya, sehina apa pun diriku. Kuberharap untuk bertemu dengan-Mu ya Rabbi." Ini adalah lirik salah satu nasyid milik Edcoustic. Nasyid berjudul Aku Ingin Mencintai-Mu Setulusnya ini tadinya saya anggap biasa-biasa saja. Kemudian menjadi lebih dari biasa sejak lagu ini dilantunkan oleh adik-adik mahasiswa pada pembukaan acara bedah novel Tahta Mahameru di Unib. Sajian yang apik. 

"Kaki Harap Dilepas," adalah tulisan di atas kertas yang kami temukan di pangkal tangga rumah Ibu Fatmawati Soekarno. Sebenarnya tulisan itu lengkapnya berbunyi "Alas Kaki Harap Dilepas", tapi bagian 'alas'nya sedikit robek termasuk perekatnya, dan kemudian terlipat, sehingga tidak terbaca lagi. Otomatis kalimat itu menjadi bahan guyonan kami saat mau menaiki tangga rumah itu, dan sampai beberapa kali saat mengingatnya lagi pun, masih saja saya tak bisa menahan geli.

"Gawat 2013," ini ditulis di atas pasir putih Pantai Panjang, oleh beberapa panitia akhwat yang mendampingi jalan-jalan sore hari itu. Saya sempat heran, kok mereka menuliskan demikian. Dan rupa-rupanya, Gawat 2013 itu adalah singkatan dari 'Gabungan Akhwat 2013'. Hahaha.... betapa 'terlalu' kreatif :). Saya tak akan pernah melupakan adik-adik panitia akhwat acara bedah novel Tahta Mahameru ini. Mereka yang begitu tulus dan baiknya, ceria, serta menyenangkan sepanjang siang dan malam kebersamaan kami. Jazakumullah.....

Selain itu, menjadi pengalaman yang sungguh unik, yaitu merasakan betapa amat sangat panasnya cuaca mulai pagi hingga sore 22 April 2013, terutama saat kami makan siang bersama di salah satu kantin Unib yang ramai. Berkipas-kipas pun tak cukup untuk mengusir gerah. Hampir frustrasi rasanya menghadapi cuaca kota pantai yang sungguh menyengat itu :). Akan tetapi, saya terhibur oleh suasana keramaian mahasiswa di kantin tersebut, yang membuat saya mengenang kembali masa-masa indah saat menjadi mahasiswa.

Dan tentu saja, tak akan terlupakan suasana acara bedah novel Tahta Mahameru di Aula Dekanat FKIP Universitas Bengkulu pada Ahad, 21 April 2013, dengan peserta yang ramai dan antusias. Juga, pengalaman menjelajah tempat-tempat eksotik di Bengkulu, seperti beberapa yang tersaji berikut ini:


Spanduk acara bedah buku


Benteng Marlborough
Benteng Marlborough, dari depan


Benteng Marlborough, yang terletak di tepi Pantai Tapak Paderi

Benteng Marlborough
Mengunjungi Danau Dendam Tak Sudah, yang pernah dikunjungi oleh Raja Ikhsan (Tahta Mahameru :))
Sunset Pantai Panjang
Sunset Pantai Panjang
Sunset Pantai Panjang

Thomas Parr Monument

Rumah Ibu Fatmawati Soekarno

Dan lucunya, kami menemukan ini di tangga rumah tersebut.

Di depan rumah kediaman Bung Karno pada masa pengasingan di Bengkulu
"Aku Titipkan Negeri Ini Padamu..."

Danau kecil yang asri di belakang gedung rektorat Universitas Bengkulu

Dan kembali lagi kepada acara bedah buku, foto ini adalah satu kenang-kenangan koleksi adinda Ismi. Terima kasih untuk fotonya, dan semoga tercapai impian kalian mendaki Mahameru. Aamiin :-)

Sabtu, 30 Maret 2013

Telaga Warna - Dataran Tinggi Dieng

Menjelajahi Telaga Warna, di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Danau ini berada di ketinggian 1.300 m di atas permukaan laut, dengan luas 70 ha.

Dinamakan Telaga Warna sebab danau ini memantulkan berbagai warna yang tentunya dipengaruhi oleh cuaca, biota bawah airnya, dan faktor alam lainnya.

Lebih dekat mengamati air danau yang jernih dan berwarna. Saat saya ke sini, hujan baru saja usai.

Di salah satu sisi danau, tampak beberapa pohon tumbang. Yang satu ini adalah pohon yang baru saja tumbang ke air.

Tampak beberapa pengunjung berjalan santai di salah satu sisi danau. Berdekatan dengan danau ini terdapat danau yang lebih kecil, namanya Danau Pengilon, juga terdapat beberapa goa alami.

All photos above were taken by Azzura Dayana.

Rabu, 13 Februari 2013

Cecuap tentang Novel Duet Ini....

Iseng di pagi hari, saya pingin cuap-cuap sedikit tentang novel duet yang sedang saya garap bersama seorang rekan penulis. Dia adalah seorang mbak saya, senior, penulis puluhan novel dan lain-lain, yaitu Mbak Ifa Avianty.

Sudah bertahun lalu sejak ide untuk bikin novel duet ini kami gelontorkan. Lalu kami coba menuliskannya. Sempat vakum beberapa lama, kemudian nyambung lagi. Saya menulis bab 1, beliau menulis bab 2. Saya memegang satu tokoh utama, perempuan, namanya Ayuni, dengan segala konfliknya. Beliau menangani satu tokoh utama, laki-laki, namanya Ranu, juga dengan segala konfliknya. Kedua tokoh ini pada akhirnya terhubung oleh satu clue, beberapa benang merah, dan sejumlah peristiwa.

Selanjutnya, saya menuliskan bab 3, saya kirimkan via email ke Mbak Ifa. Lalu Mbak Ifa menulis bab 4, dikirim ke saya. Saya bersiap lanjut bab 5. Begitu seterusnya. Baru kali ini saya menulis tanpa outline. Hanya bermodal tulisan partner yang ternyata saling melengkapi dan saling memperkaya ide selanjutnya. Ternyata, ini sebuah proses yang luar biasa. Lebih luar biasa dari yang kami sendiri bayangkan sebelumnya. Tokoh-tokoh kami ini memiliki karakter yang kompleks pula. Mereka traveler dengan gaya masing-masing yang berbeda cara dan pemahaman. Ada sisi serius, melankolis, puitis. Tapi di sisi lain, mereka mampu ngebanyol sampai membuat saya sendiri sakit perut karena tertawa. Pada akhirnya saya mulai mencoba beradaptasi sehingga akhirnya sedikit-sedikit bisa juga membangun kejenakaan tokoh-tokoh saya, belajar dari Mbak Ifa:). Malah sepertinya, kekocakan tokoh-tokoh kami ini adalah pewarna utama yang sangat menceriakan kisah di novel ini.

Alhamdulillah... kini novel ini telah mencapai bab 14. Dan kini kami berdua sedang menyusun bab penutupnya (yang naga-naganya akan cukup panjang), yaitu bab 15. Semoga Allah senantiasa memudahkan. Aamiin (ternyata kemudian bab terakhirnya adalah  bab 17).

Sebagai perkenalan, izinkan saya menghadirkan bab pertama dari novel duet kami, di blog ini. Meski bab 1 ini barulah pembuka, dan sebenarnya belum apa-apa. Tetapi, selamat membaca :-)

------------------------------------------------------------


NOVEL DUET
IFA AVIANTY & AZZURA DAYANA

Chapter One

Photo: Hujan
Caption: Apapun bentuk kemarahanmu, kawan, air bisa menenangkannya.
Setting: Baduy Luar Village

“Di dunia ini memang nggak ada orang yang benar-benar baik kok, Ay. Intinya ya gitu.”
Tongkat bambu tertancap di tanah merah. Langkahnya tegas, setegas semprotan perkataannya.
Aku mendengus tanpa jawab. Mulut keringnya berkicau lagi. Menjengkelkan bagi semua makhluk yang mendengarnya, termasuk daun, akar, cacing yang bersembunyi, dan aku.
“Sebab seumur penjelajahan gue di tanah Tuhan ini, di tiap jengkal yang dihuni para manusia pasti memang ada manusia yang hatinya gak bersih. Kita juga gak bisa dipastiin berhati bersih kali.”
Suara gemericik air tertangkap telingaku. Pasti ada mata air yang akan kami temui tak lama lagi. Kalau air bisa mendengar, pasti semburannya sudah terbang ke arahnya dan membuatnya tersedak, lalu ia akan tutup mulut selamanya. Capek banget aku mendengar ocehannya ini.
Cowok gondrong itu terus melangkah dan belum bosan bersuara, “Jadi di sini pun, yang kearifan lokalnya tinggi banget ini, nggak menjamin manusia-manusianya terjamin seratus persen murni. Gitu, kan?”
Kuhujamkan tongkat ke tanah dan kulepaskan. Kutentang matanya sambil berkacak pinggang. Peluh turun lagi di pelipisku.
“Kali ini lu udah menghina mereka, Yos!”
Did I? Trus lu mau bilang itu bukti gue juga bukan manusia mulia, kan? Huahahaa.” Dia tertawa, nggak jelas banget.
 “Gue lagi males berdebat sama lu, terserah lu mau bilang apa juga,” tukasku.
Sebenarnya, ingin benar aku melayani ocehannya sampai tuntas. Tapi berhubung medan trekking pegunungan Baduy ini adalah jalur yang cukup menguras energi dan strategi, aku sudah merasa letih lebih dulu. Lagipula mana baik membahas ketidakmuliaan siapa-siapa di wilayah pedalaman yang tentunya juga tidak mungkin tanpa kandungan misteri sama sekali ini.
Semua ini terjadi gara-gara pas awal trekking tadi aku sedikit mengangkat tema Kepolosan vs Kebejatan Manusia. Sebenarnya iseng saja, ngobrol sambil jalan, biar nggak merasa bosan sepanjang jalan melintasi hutan. Dios memuji-muji sistem hidup masyarakat suku Baduy yang menurutnya sangat alami dan menjaga, plus karakter mereka yang polos dan mulia. Mulia? Nah, di titik ini perdebatan dimulai. Bukan berarti aku menolak untuk sepakat bahwa orang-orang suku Baduy berhati mulia. Bukan. Tapi mengukur kemuliaan manusia bukanlah hal yang mudah. Ada sangat banyak faktor yang mesti terlibat.
Begitu panjang dan luasnya sahut-menyahut dan timpal-menimpali dalam pembahasan kami di tema ini, hingga ujung-ujungnya Dios menyepakati dengan terpaksa dan penuh sindiran, bahwa benar seperti kataku, tidak ada manusia yang benar-benar mulia, termasuk masyarakat yang coba kami kunjungi ini. Jelas-jelas dia tidak sepakat, tetapi hanya bermaksud mengolok-olok pemikiranku. Ah, kami ya memang selalu begini. Jarang akur. Setiap membahas sesuatu ujung-ujungnya berdebat dan bertengkar. Mulut Dios bertipe radio rusak alias cerewet dan bawel. Sementara aku ujung-ujungnya kesal dan marah. Anehnya, kami tetap bisa berteman sampai bertahun-tahun.
Sayangnya, kondisi kami saat ini memang kurang beruntung. Aku terjebak berdua bersama lelaki pengomel ini sejak kami terpisah dari rombongan backpacker lainnya. Guide yang menjaga kelompok paling belakang pun ketika kami tunggu sudah tak ada lagi. Maka kami berdua yakin, tadi kami salah membuat keputusan di persimpangan sebelum perbukitan ini.
Aku duduk di tanah dan melepas ransel berat dari punggung.
“Jalan sendiri aja kalau lu terus membahas masalah kebejatan. Ajak bicara saja pohon-pohon dan batu-batu di tanjakan. Lu bakal senang karena mereka nggak akan ngebantah lu. Gue mau di sini aja, nungguin orang Baduy yang lewat.”
Dios tersenyum konyol. Ingin sekali aku melemparkan segumpal tanah ke mukanya.
“Baru kali ini gue denger lu mau menunggu bala bantuan, Ay.” Lantas dia tertawa kencang. Kebiasaannya.
Kutatap matanya cepat. “Pergi atau gue lempar muka lu pake tanah.”
“Ih, mulai keluar taring macannya nih!”
“Bukan macan, tapi srigala!”
“Woow, atuuut…” Dia pura-pura menciutkan badan. Nyebelin banget kan?
“Pergi nggak lu? Jalan sendiri sana,” seruku.
“Serius nih nyuruh gue jalan duluan?” dia menaik-turunkan kedua alis matanya. “Ya udah gue pergi. Tunggu saja di sini sampai lumutan.”
Dios ngeloyor pergi dengan gaya jalan yang sok cuek.
Gerimis turun.
Di sekitarku, yang dapat kulihat dari ketinggian ini adalah jurang yang memanjang tepat di belakang aku duduk, jalan berkelok di depanku yang berakhir di balik bukit, selebihnya adalah pohon dan pohon.
Rindang.
Tapi tidak sanggup menghalauku dari tumpahan hujan yang tiba-tiba menderas.
Cepat-cepat kuambil raincoat dari dalam ransel dan kukenakan. Sendirian di hutan dalam keadaan hujan… ini bukan pengalaman pertamaku. Aku tidak sepenuhnya mengkhawatirkan diriku. Orang Baduy bisa muncul dari mana saja—bahkan dari jurang di belakangku ini—dan mengajakku menjejak rute yang tepat lagi. Meski aku meragukan ada orang-orang yang hatinya terlalu mulia di dunia ini selain para Nabi, aku toh yakin bahwa masyakarat Baduy adalah orang-orang baik.
Sepuluh menit menunggu.
Ponselku hilang sinyal di tempat ini. Otomatis tak satu teman pun yang bisa kuhubungi.
Aku mendongak memandangi hujan.
Raincoatku basah sempurna bagian luarnya. Kukeluarkan payung, kubentangkan ia dan kulilitkan gagangnya pada tongkat bambu yang kutancapkan di tanah. Tongkat itu terbuat dari bambu tua yang berdiameter cukup besar. Kekuatannya dijamin alam. Di bawah naungan payung itu, aku mengeluarkan kamera DSLR-ku.
Tak ada benda yang tidak bisa dipotret, termasuk hujan.
Termasuk hujan ini.
Klik!
Paling lama setengah jam lagi, jika hujan telah selesai, aku yakin akan ada sosok Baduy yang melewati jalan ini.
Klik!
Berpuluh menit berlalu.
Tapi… kenapa sekonyong-konyong terbit sedikit rasa sesal di hatiku, ya? Dan aku jadi mulai mengkhawatirkan… Uh!
Klik!
… mengkhawatirkan Dios.
***


Photo: Bamboo bridge
Caption: Kalau ketika melangkah, engkau melibatkan hati selain kaki, jeram di bawah sana akan melambai padamu semakin jauh.
Setting: Baduy Luar Village

“Tanpa paku, Pak?”
Pak Irfan membenarkan. “Hanya mengandalkan ikatan tali saja, Neng. Susunan bambu-bambu panjang itu…,” telunjuknya mengarah pada bambu-bambu berukuran ‘raksasa’ mulai dari pangkal sampai ujung jembatan, juga yang bersusun tinggi di atas sana dan mengharuskanku mendongak untuk memperhatikannya. “… ya dari sana itulah kekuatannya.”
Oke, si bapak tidak berbicara dengan bahasa arsitek. Bahasa yang digunakannya adalah bahasa sederhana dengan bantuan isyarat tubuh sesekali. Padahal aku mengerti, ia sedang menunjukkan padaku bahwa struktur puluhan bambu yang disusun sedemikian rupa itulah yang berfungsi saling menopang dan menyumbangkan kekuatan pada jembatan itu.
Sungai yang besar dan deras mengalir di bawah. Jarak yang sangat tinggi dari sini. Bahkan untuk seorang perenang pun, belum tentu akan selamat dengan mudah jika terjatuh dari atas jembatan ini.
Aku berdecak kagum. Para manusia canggih di luar sana bukan hanya butuh paku untuk membuat jembatan, tapi mereka juga butuh mesin. Tapi memang tidak ada satu jenis kendaraan apa pun yang mereka gunakan di wilayah suku Baduy ini, jadi aku tidak tahu apakah kekuatan jembatan bambu tanpa paku ini tidak kalah dengan jembatan kayu atau beton yang dilindas kendaraan setiap hari.
“Jembatannya licin, Neng, abis hujan tadi. Pelan-pelan saja,” kata si Bapak.
Padahal sebelum dia mengingatkan, aku sudah mengatur strategi melewati jembatan ini.
“Kenapa tak ada warga yang berniat membeli kendaraan ya, Pak?” tanyaku sambil melangkah satu-satu di atas anyaman empat bambu yang dirapatkan itu. “Sepeda, misalnya. Bukankah itu akan mempermudah transportasi?”
Semoga ia mengerti apa itu transportasi. Secara, kata itu kan berasal dari bahasa Inggris.
“Yaaah, memang harusnya kami begini saja, Neng. Tidak terpikir mau pakai kendaraan. Jalan kaki saja sudah enak…,” ujarnya, terdengar amat polos dan sederhana.
Polos dan sederhana…
Di ujung jembatan, aku bertanya lagi. Kali ini sambil menghadap wajah tua Pak Irfan.
“Tidak apa-apa Bapak mengantar saya ke jalur menuju Cibeo dari sini? Saya tidak sadar ternyata saya tersesat jauh sekali dari rute yang seharusnya…”
Si Bapak tersenyum. “Tidak apa-apa, Neng. Kan kalau ada tamu yang hilang, bukan cuma teman-teman Neng saja yang repot, kita juga repot…”
Bukan kalimat bernada keberatan atau kesal. Sama sekali tidak. Hmm.
“Tapi ada satu teman saya yang tadi juga tersesat bersama saya, Pak. Laki-laki. Dan saya tidak tahu sekarang dia ada di mana…”
Aku merasa bersalah ketika kulihat paras Pak Irfan berubah.
“Dia lewat mana tadi, Neng?”
Aku garuk kepala. “K-ke arah sini juga, Pak. Tapi selanjutnya saya tidak tahu...”
Pak Irfan terdiam. Aku juga. Suara aliran sungai yang deras saja yang terdengar.
“Ya sudah, Neng, biar Bapak antar dulu sampai ketemu rombongan yang lain. Nanti kalau kita ketemu orang sini, Bapak akan beritahu tentang teman Neng itu…”
“Tapi mudah-mudahan dia sudah ketemu rombongan di depan ya, Pak.”
Si Bapak tidak menjawab. Aku menggigit bibir bawah.
Dios, kamu memang temanku yang menyebalkan. Tapi aku juga tidak mau kamu celaka. Kalau bukan karena aku yang sok tahu soal menentukan jalan tadi, kamu tidak akan membahas masalah ketidakmuliaan, bukan? Sebab aku tahu persis, salah satu orang di atas bumi ini yang tidak mulia itu… ya aku sendiri juga.
***


“Ay!”
Suara Bumi, temanku. Cowok asal Semarang yang sudah menaklukkan hampir semua gunung berketinggian di atas 2.500 mdpl di pulau Jawa. Ia berdiri di seberang jembatan ketiga yang mengalir di atas sungai Ciujung. Kata Pak Irfan yang masih bersamaku, jembatan ini adalah pemisah antara wilayah Baduy Luar dan Baduy Dalam.
Aku melambaikan tangan gagah kepada Bumi. Dia tidak sendirian. Ada Teja dan Haris yang sedang duduk di batu, dan Ken yang sedang meneguk air mineral dari botol 1,5 liter.
Tiba di ujung jembatan, lengan Bumi merangkul pundakku kuat. “Ke mana aja tadi?” ujarnya songong seperti biasa. Tiga temanku yang lain juga mendekat, tersenyum dan menggeleng.
Aku menarik bibirku ke kanan pipi, “Ngilang bentar, Pak. Biasa anak muda.”
“Biasa nyesat emang lo ya,” timpalnya.
Aku ngakak. “Alam sahabat terbaik kita, Bung. Jangan bilang kalian khawatir tadi ya. Emang gue anak kecil? Lagian gue yakin bakal bertemu orang Baduy yang baik hati macam Pak Irfan ini,” aku menoleh pada Pak Irfan sambil berterima kasih.
“Tenang, Ay. Nggak ada yang khawatir lo mau ngilang sampe besok juga, terserah,” sambar Haris. “Paling tadi yang sempat terpikir oleh kita, kalo lo nyasar sampe desa Baduy yang paling jauh, trus lo nggak bisa pulang lagi, kita penasaran aja kira-kira cowok Baduy mana yang bakal dijodohkan oleh keluarga adopsi lo entar!”
Tawa berderai.
“Sialan…,” aku ikut tertawa.
Teja memasang topi hitam bertulis ‘Backpacker’ kebanggaannya. Langit memang kembali terik. Di depan kami, telah menanti tanjakan paling curam dari tujuh bukit yang harus kami lintasi sepanjang trekking menuju Baduy Dalam ini.
Kurangkul pinggang Ken, si cewek tomboy. “Tadi emang kebetulan istirahat di sini atau sengaja nungguin gue?”
“Dua-duanya,” sahutnya. Aku manggut sambil memajukan mulut.
“Bumi,” panggilku. Pak komandan itu menoleh.
“Apa?”
“Rombongan depan siapa aja? Ada Dios?”
“Dios?” keningnya berkerut. “Ja, Dios di depan kan, ya?” ia mengkonfirmasi Teja.
“Eh, di depan nggak ya? Ada kayaknya,” jawaban Teja tidak meyakinkan.
“Nggak. Gue nggak ngeliat Dios sejak Ay ngilang tadi. Dia nggak ada di depan.”
Haris membenarkan. “Gue baru aja mau nanya si Ay, apa tadi lo bareng dia?”
Kuembuskan napas berat. Aku memutar tubuh menghadap Pak Irfan. “Berarti teman saya itu belum ditemukan, Pak.”


Rabu, 06 Februari 2013

Album Pendakian Gunung Dempo

Perjalanan mendekati Gunung Dempo dimulai. Pagi hari itu...

Semakin meninggalkan kota, inilah pemandangan lereng Gunung Dempo. Kebun teh sejauh mata memandang...

Tiba di Tugu Rimau, salah satu di antara dua pintu masuk pendakian.

View dari Tugu Rimau. Jalan berkelok di antara kebun teh.

Pemandangan kota di bawah sana yang diselimuti awan, dlihat dari Tugu Rimau.

Pendakian dimulai. Dan inilah yang disebut shelter 2, duduk aja susah. Nggak ada tanah ratanya bo' :)

Puncak II alias Puncak Dempo, 3.159 meter di atas permukaan laut.

Dari lembah tempat kemping (yang terletak di antara dua puncak di Gunung Dempo), perjalanan naik menuju Puncak I (Puncak Merapi) dimulai.

Menyusuri tanah berbatu menuju ke Puncak Merapi Gunung Dempo

Tiba di Puncak. Subhanallah. Ini view Puncak Dempo dilihat dari Puncak Merapi (saling berhadap-hadapan)

View Puncak Dempo dilihat dari Puncak Merapi. Berhias tetumbuhan kayu panjang umur.

Lagi, view Puncak Dempo dilihat dari Puncak Merapi.

Nah, ini bibir (kawah) Puncak I (Puncak Merapi 3.183 m di atas permukaan laut).

Dan ini kawah di Puncak Merapi. Danau tsb terlihat dekat dan kecil, padahal sesungguhnya besar dan terletak jauh di bawah sana.

Duduk diam sejenak, memandangi danau kawah di bawah sana.

Bebatuan di Puncak Merapi, background Puncak Dempo

Ramainya puncak.

Ramainya puncak.

Nah, sekarang mari kita soroti beberapa treknya. Foto2 berikut diambil saat turun.

Beginilah kondisi trek jalur Rimau yang kami lalui saat itu, basah dan licin.

Trek

Trek yang seperti ini sehingga agak jarang untuk bisa dilewati dengan terus melompat-lompat saja.

Trek tali. Ada 4 trek tali di jalur Rimau. Ini yang terpendek.

Trek

Trek.

Trek

Trek

Ngaso bentar....

Trek tali lainnya (seperti menuruni lubang sumur).

Tiba kembali di bawah (start dan finish pendakian).

Berikut adalah foto2 para pendaki lain yang saya temukan di jagat maya. Berhubung saat di trek tali saya jarang motret, karena lebih fokus mikirin nyawa:).

Ini juga koleksi foto teman pendaki lain.

Masih koleksi pendaki lain. Ini adalah trek tali terpanjang, dan lurus. Mending banget ngelewatin yang ini, dibanding trek tali terakhir yang bengkok dan tidak ada pijakannya (tidak sempat difoto pula).

Trek. Foto pendaki lain.

Shelter 2.

Top Dempo.

Jalan sempit dan basah beginilah yang dituruni dari Puncak Dempo menuju Lembah tempat kemping.
Wiih, view seperti ini nih yang tak sempat saya saksikan karena kebetulan lagi mendung. Negeri di atas awan. Kalau lagi mujur (cerah) view begini bisa disaksikan ketika hampir tiba di Puncak Dempo (puncak 2).

Dan tiba2, saya menemukan foto macan ini di flickr. Trus jadi kebayang, gimana kalau tiba2 pas lagi mendaki kita ketemu sama yang beginian, lagi duduk manis. Secara... Dempo kan banyak harimau/macannya. Auumm.... :)