Iseng di pagi hari, saya pingin cuap-cuap sedikit tentang novel duet yang sedang saya garap bersama seorang rekan penulis. Dia adalah seorang mbak saya, senior, penulis puluhan novel dan lain-lain, yaitu Mbak Ifa Avianty.
Sudah bertahun lalu sejak ide untuk bikin novel duet ini kami gelontorkan. Lalu kami coba menuliskannya. Sempat vakum beberapa lama, kemudian nyambung lagi. Saya menulis bab 1, beliau menulis bab 2. Saya memegang satu tokoh utama, perempuan, namanya Ayuni, dengan segala konfliknya. Beliau menangani satu tokoh utama, laki-laki, namanya Ranu, juga dengan segala konfliknya. Kedua tokoh ini pada akhirnya terhubung oleh satu clue, beberapa benang merah, dan sejumlah peristiwa.
Selanjutnya, saya menuliskan bab 3, saya kirimkan via email ke Mbak Ifa. Lalu Mbak Ifa menulis bab 4, dikirim ke saya. Saya bersiap lanjut bab 5. Begitu seterusnya. Baru kali ini saya menulis tanpa outline. Hanya bermodal tulisan partner yang ternyata saling melengkapi dan saling memperkaya ide selanjutnya. Ternyata, ini sebuah proses yang luar biasa. Lebih luar biasa dari yang kami sendiri bayangkan sebelumnya. Tokoh-tokoh kami ini memiliki karakter yang kompleks pula. Mereka traveler dengan gaya masing-masing yang berbeda cara dan pemahaman. Ada sisi serius, melankolis, puitis. Tapi di sisi lain, mereka mampu ngebanyol sampai membuat saya sendiri sakit perut karena tertawa. Pada akhirnya saya mulai mencoba beradaptasi sehingga akhirnya sedikit-sedikit bisa juga membangun kejenakaan tokoh-tokoh saya, belajar dari Mbak Ifa:). Malah sepertinya, kekocakan tokoh-tokoh kami ini adalah pewarna utama yang sangat menceriakan kisah di novel ini.
Alhamdulillah... kini novel ini telah mencapai bab 14. Dan kini kami berdua sedang menyusun bab penutupnya (yang naga-naganya akan cukup panjang), yaitu bab 15. Semoga Allah senantiasa memudahkan. Aamiin (ternyata kemudian bab terakhirnya adalah bab 17).
Sebagai perkenalan, izinkan saya menghadirkan bab pertama dari novel duet kami, di blog ini. Meski bab 1 ini barulah pembuka, dan sebenarnya belum apa-apa. Tetapi, selamat membaca :-)
------------------------------------------------------------
NOVEL DUET
IFA AVIANTY & AZZURA DAYANA
Chapter One
Photo: Hujan
Caption: Apapun
bentuk kemarahanmu, kawan, air bisa menenangkannya.
Setting:
Baduy Luar Village
“Di dunia ini memang nggak ada orang yang benar-benar baik kok, Ay. Intinya
ya gitu.”
Tongkat bambu tertancap di tanah merah. Langkahnya tegas, setegas
semprotan perkataannya.
Aku mendengus tanpa jawab. Mulut keringnya berkicau lagi. Menjengkelkan bagi
semua makhluk yang mendengarnya, termasuk daun, akar, cacing yang bersembunyi,
dan aku.
“Sebab seumur penjelajahan gue di tanah Tuhan ini, di tiap jengkal yang
dihuni para manusia pasti memang ada manusia yang hatinya gak bersih. Kita juga
gak bisa dipastiin berhati bersih kali.”
Suara gemericik air tertangkap telingaku. Pasti ada mata air yang akan
kami temui tak lama lagi. Kalau air bisa mendengar, pasti semburannya sudah terbang
ke arahnya dan membuatnya tersedak, lalu ia akan tutup mulut selamanya. Capek banget
aku mendengar ocehannya ini.
Cowok gondrong itu terus melangkah dan belum bosan bersuara, “Jadi di
sini pun, yang kearifan lokalnya tinggi banget ini, nggak menjamin manusia-manusianya
terjamin seratus persen murni. Gitu, kan?”
Kuhujamkan tongkat ke tanah dan kulepaskan. Kutentang matanya sambil
berkacak pinggang. Peluh turun lagi di pelipisku.
“Kali ini lu udah menghina mereka, Yos!”
“Did I? Trus lu mau bilang itu bukti gue juga bukan manusia mulia,
kan? Huahahaa.” Dia tertawa, nggak jelas banget.
“Gue lagi males berdebat sama lu,
terserah lu mau bilang apa juga,” tukasku.
Sebenarnya, ingin benar aku melayani ocehannya sampai tuntas. Tapi berhubung
medan trekking pegunungan Baduy ini adalah jalur yang cukup menguras energi dan
strategi, aku sudah merasa letih lebih dulu. Lagipula mana baik membahas
ketidakmuliaan siapa-siapa di wilayah pedalaman yang tentunya juga tidak
mungkin tanpa kandungan misteri sama sekali ini.
Semua ini terjadi gara-gara pas awal trekking tadi aku sedikit mengangkat
tema Kepolosan vs Kebejatan Manusia. Sebenarnya iseng saja, ngobrol sambil
jalan, biar nggak merasa bosan sepanjang jalan melintasi hutan. Dios memuji-muji
sistem hidup masyarakat suku Baduy yang menurutnya sangat alami dan menjaga,
plus karakter mereka yang polos dan mulia. Mulia? Nah, di titik ini perdebatan
dimulai. Bukan berarti aku menolak untuk sepakat bahwa orang-orang suku Baduy
berhati mulia. Bukan. Tapi mengukur kemuliaan manusia bukanlah hal yang mudah. Ada
sangat banyak faktor yang mesti terlibat.
Begitu panjang dan luasnya sahut-menyahut dan timpal-menimpali dalam
pembahasan kami di tema ini, hingga ujung-ujungnya Dios menyepakati dengan
terpaksa dan penuh sindiran, bahwa benar seperti kataku, tidak ada manusia yang
benar-benar mulia, termasuk masyarakat yang coba kami kunjungi ini. Jelas-jelas
dia tidak sepakat, tetapi hanya bermaksud mengolok-olok pemikiranku. Ah, kami
ya memang selalu begini. Jarang akur. Setiap membahas sesuatu ujung-ujungnya
berdebat dan bertengkar. Mulut Dios bertipe radio rusak alias cerewet dan
bawel. Sementara aku ujung-ujungnya kesal dan marah. Anehnya, kami tetap bisa
berteman sampai bertahun-tahun.
Sayangnya, kondisi kami saat ini memang kurang beruntung. Aku terjebak
berdua bersama lelaki pengomel ini sejak kami terpisah dari rombongan backpacker
lainnya. Guide yang menjaga kelompok paling belakang pun ketika kami
tunggu sudah tak ada lagi. Maka kami berdua yakin, tadi kami salah membuat
keputusan di persimpangan sebelum perbukitan ini.
Aku duduk di tanah dan melepas ransel berat dari punggung.
“Jalan sendiri aja kalau lu terus membahas masalah kebejatan. Ajak bicara
saja pohon-pohon dan batu-batu di tanjakan. Lu bakal senang karena mereka nggak
akan ngebantah lu. Gue mau di sini aja, nungguin orang Baduy yang lewat.”
Dios tersenyum konyol. Ingin sekali aku melemparkan segumpal tanah ke
mukanya.
“Baru kali ini gue denger lu mau menunggu bala bantuan, Ay.” Lantas dia
tertawa kencang. Kebiasaannya.
Kutatap matanya cepat. “Pergi atau gue lempar muka lu pake tanah.”
“Ih, mulai keluar taring macannya nih!”
“Bukan macan, tapi srigala!”
“Woow, atuuut…” Dia pura-pura menciutkan badan. Nyebelin banget kan?
“Pergi nggak lu? Jalan sendiri sana,” seruku.
“Serius nih nyuruh gue jalan duluan?” dia menaik-turunkan kedua alis
matanya. “Ya udah gue pergi. Tunggu saja di sini sampai lumutan.”
Dios ngeloyor pergi dengan gaya jalan yang sok cuek.
Gerimis turun.
Di sekitarku, yang dapat kulihat dari ketinggian ini adalah jurang yang
memanjang tepat di belakang aku duduk, jalan berkelok di depanku yang berakhir
di balik bukit, selebihnya adalah pohon dan pohon.
Rindang.
Tapi tidak sanggup menghalauku dari tumpahan hujan yang tiba-tiba
menderas.
Cepat-cepat kuambil raincoat dari dalam ransel dan kukenakan.
Sendirian di hutan dalam keadaan hujan… ini bukan pengalaman pertamaku. Aku
tidak sepenuhnya mengkhawatirkan diriku. Orang Baduy bisa muncul dari mana saja—bahkan
dari jurang di belakangku ini—dan mengajakku menjejak rute yang tepat lagi. Meski
aku meragukan ada orang-orang yang hatinya terlalu mulia di dunia ini selain
para Nabi, aku toh yakin bahwa
masyakarat Baduy adalah orang-orang baik.
Sepuluh menit menunggu.
Ponselku hilang sinyal di tempat ini. Otomatis tak satu teman pun yang
bisa kuhubungi.
Aku mendongak memandangi hujan.
Raincoatku basah sempurna bagian luarnya. Kukeluarkan payung,
kubentangkan ia dan kulilitkan gagangnya pada tongkat bambu yang kutancapkan di
tanah. Tongkat itu terbuat dari bambu tua yang berdiameter cukup besar.
Kekuatannya dijamin alam. Di bawah naungan payung itu, aku mengeluarkan kamera
DSLR-ku.
Tak ada benda yang tidak bisa dipotret, termasuk hujan.
Termasuk hujan ini.
Klik!
Paling lama setengah jam lagi, jika hujan telah selesai, aku yakin akan
ada sosok Baduy yang melewati jalan ini.
Klik!
Berpuluh menit berlalu.
Tapi… kenapa sekonyong-konyong terbit sedikit rasa sesal di hatiku, ya?
Dan aku jadi mulai mengkhawatirkan… Uh!
Klik!
… mengkhawatirkan Dios.
***
Photo:
Bamboo bridge
Caption:
Kalau ketika melangkah, engkau melibatkan hati selain kaki, jeram di bawah sana
akan melambai padamu semakin jauh.
Setting:
Baduy Luar Village
“Tanpa paku, Pak?”
Pak Irfan membenarkan. “Hanya mengandalkan ikatan tali saja, Neng.
Susunan bambu-bambu panjang itu…,” telunjuknya mengarah pada bambu-bambu
berukuran ‘raksasa’ mulai dari pangkal sampai ujung jembatan, juga yang
bersusun tinggi di atas sana dan mengharuskanku mendongak untuk
memperhatikannya. “… ya dari sana itulah kekuatannya.”
Oke, si bapak tidak berbicara dengan bahasa arsitek. Bahasa yang
digunakannya adalah bahasa sederhana dengan bantuan isyarat tubuh sesekali.
Padahal aku mengerti, ia sedang menunjukkan padaku bahwa struktur puluhan bambu
yang disusun sedemikian rupa itulah yang berfungsi saling menopang dan
menyumbangkan kekuatan pada jembatan itu.
Sungai yang besar dan deras mengalir di bawah. Jarak yang sangat tinggi
dari sini. Bahkan untuk seorang perenang pun, belum tentu akan selamat dengan
mudah jika terjatuh dari atas jembatan ini.
Aku berdecak kagum. Para manusia canggih di luar sana bukan hanya butuh
paku untuk membuat jembatan, tapi mereka juga butuh mesin. Tapi memang tidak
ada satu jenis kendaraan apa pun yang mereka gunakan di wilayah suku Baduy ini,
jadi aku tidak tahu apakah kekuatan jembatan bambu tanpa paku ini tidak kalah
dengan jembatan kayu atau beton yang dilindas kendaraan setiap hari.
“Jembatannya licin, Neng, abis hujan tadi. Pelan-pelan saja,” kata si
Bapak.
Padahal sebelum dia mengingatkan, aku sudah mengatur strategi melewati
jembatan ini.
“Kenapa tak ada warga yang berniat membeli kendaraan ya, Pak?” tanyaku
sambil melangkah satu-satu di atas anyaman empat bambu yang dirapatkan itu.
“Sepeda, misalnya. Bukankah itu akan mempermudah transportasi?”
Semoga ia mengerti apa itu transportasi. Secara, kata itu kan berasal
dari bahasa Inggris.
“Yaaah, memang harusnya kami begini saja, Neng. Tidak terpikir mau pakai
kendaraan. Jalan kaki saja sudah enak…,” ujarnya, terdengar amat polos dan
sederhana.
Polos dan sederhana…
Di ujung jembatan, aku bertanya lagi. Kali ini sambil menghadap wajah tua
Pak Irfan.
“Tidak apa-apa Bapak mengantar saya ke jalur menuju Cibeo dari sini? Saya
tidak sadar ternyata saya tersesat jauh sekali dari rute yang seharusnya…”
Si Bapak tersenyum. “Tidak apa-apa, Neng. Kan kalau ada tamu yang hilang,
bukan cuma teman-teman Neng saja yang repot, kita juga repot…”
Bukan kalimat bernada keberatan atau kesal. Sama sekali tidak. Hmm.
“Tapi ada satu teman saya yang tadi juga tersesat bersama saya, Pak.
Laki-laki. Dan saya tidak tahu sekarang dia ada di mana…”
Aku merasa bersalah ketika kulihat paras Pak Irfan berubah.
“Dia lewat mana tadi, Neng?”
Aku garuk kepala. “K-ke arah sini juga, Pak. Tapi selanjutnya saya tidak
tahu...”
Pak Irfan terdiam. Aku juga. Suara aliran sungai yang deras saja yang
terdengar.
“Ya sudah, Neng, biar Bapak antar dulu sampai ketemu rombongan yang lain.
Nanti kalau kita ketemu orang sini, Bapak akan beritahu tentang teman Neng
itu…”
“Tapi mudah-mudahan dia sudah ketemu rombongan di depan ya, Pak.”
Si Bapak tidak menjawab. Aku menggigit bibir bawah.
Dios, kamu memang temanku yang menyebalkan. Tapi aku juga tidak mau kamu
celaka. Kalau bukan karena aku yang sok tahu soal menentukan jalan tadi, kamu
tidak akan membahas masalah ketidakmuliaan, bukan? Sebab aku tahu persis, salah satu
orang di atas bumi ini yang tidak mulia itu… ya aku sendiri juga.
***
“Ay!”
Suara Bumi, temanku. Cowok asal Semarang yang sudah menaklukkan hampir
semua gunung berketinggian di atas 2.500 mdpl di pulau Jawa. Ia berdiri di
seberang jembatan ketiga yang mengalir di atas sungai Ciujung. Kata Pak Irfan
yang masih bersamaku, jembatan ini adalah pemisah antara wilayah Baduy Luar dan
Baduy Dalam.
Aku melambaikan tangan gagah kepada Bumi. Dia tidak sendirian. Ada Teja
dan Haris yang sedang duduk di batu, dan Ken yang sedang meneguk air mineral
dari botol 1,5 liter.
Tiba di ujung jembatan, lengan Bumi merangkul pundakku kuat. “Ke mana aja
tadi?” ujarnya songong seperti biasa. Tiga temanku yang lain juga mendekat,
tersenyum dan menggeleng.
Aku menarik bibirku ke kanan pipi, “Ngilang bentar, Pak. Biasa anak muda.”
“Biasa nyesat emang lo ya,” timpalnya.
Aku ngakak. “Alam sahabat terbaik kita, Bung. Jangan bilang kalian
khawatir tadi ya. Emang gue anak kecil? Lagian gue yakin bakal bertemu orang
Baduy yang baik hati macam Pak Irfan ini,” aku menoleh pada Pak Irfan sambil
berterima kasih.
“Tenang, Ay. Nggak ada yang khawatir lo mau ngilang sampe besok juga,
terserah,” sambar Haris. “Paling tadi yang sempat terpikir oleh kita, kalo lo
nyasar sampe desa Baduy yang paling jauh, trus lo nggak bisa pulang lagi, kita
penasaran aja kira-kira cowok Baduy mana yang bakal dijodohkan oleh keluarga
adopsi lo entar!”
Tawa berderai.
“Sialan…,” aku ikut tertawa.
Teja memasang topi hitam bertulis ‘Backpacker’ kebanggaannya. Langit
memang kembali terik. Di depan kami, telah menanti tanjakan paling curam dari
tujuh bukit yang harus kami lintasi sepanjang trekking menuju Baduy Dalam ini.
Kurangkul pinggang Ken, si cewek tomboy. “Tadi emang kebetulan istirahat
di sini atau sengaja nungguin gue?”
“Dua-duanya,” sahutnya. Aku manggut sambil memajukan mulut.
“Bumi,” panggilku. Pak komandan itu menoleh.
“Apa?”
“Rombongan depan siapa aja? Ada Dios?”
“Dios?” keningnya berkerut. “Ja, Dios di depan kan, ya?” ia
mengkonfirmasi Teja.
“Eh, di depan nggak ya? Ada kayaknya,” jawaban Teja tidak meyakinkan.
“Nggak. Gue nggak ngeliat Dios sejak Ay ngilang tadi. Dia nggak ada di
depan.”
Haris membenarkan. “Gue baru aja mau nanya si Ay, apa tadi lo bareng
dia?”
Kuembuskan napas berat. Aku memutar tubuh menghadap Pak Irfan. “Berarti
teman saya itu belum ditemukan, Pak.”